Ksatria Greystone [Bag. 2]

September 23, 2008

Intrik di Menara Jingga

Dihempaskannya meja saji dihadapannya, pemimpin klan Subterranean Termite berbadan kekar itu murka bukan kepalang. Kepala bulatnya seperti helm para Globullar[1] menanduk-nanduk apa saja dalam jangkauannya. Sekarang pandangannya tertuju pada Bellickosus. Penglima yang membawahi duaratus ribu Elite Nasute[2] itu mundur selangkah, tersenyum kecut. Sambil menelan ludah ia bermaksud menjelaskan keadaan dan situasi peperangan, namun sang tuan lebih dulu memotong kalimatnya.

“Akupun membaca berita!” Potong sang pemimpin bernada berang. “Aku sama sekali tak butuh laporan kondisi pasukanmu atau kerugian pihak musuh. Aku hanya menginginkan hasil kemenangan, titik!”

“Siap, Lord Nassutz!” jawabnya tegas.

Bentakan Nassutz Termitius kepada jenderal favoritnya membuat seisi arena koloseum mendadak sunyi, erangan para gladiator yang sedari tadi bergumul itu terhenti. Hanya dentingan gelas-gelas pelayan yang gemetaran memegang talam berani ‘protes’ pada sang tuan.

Ia memang berhak geram, keseriusannya menonton gulat para Stag Beetles[3] terganggu dengan kedatangan berita tidak menyenangkan, kekalahan telak di pertempuran memperebutkan kota Chameleon Base. Padahal yang didambakannya saat ini adalah kalimat ‘mission accomplished’ terucap dari mulut sang jenderal. Kota yang wajib ada ditangannya sebelum berakhir musim gugur ini sudah lama tercatat dalam agenda rahasianya. Sebuah misi terselubung dibalik rencana pendudukan yang para penasehat militernya termasuk perdana menteri saja tidak mengetahuinya kecuali putera mahkota. Hanya di tangan kedua sahabat inilah rahasia besar yang masih tetap menjadi misteri itu tersimpan rapi.

Untuk kali kedua kota garnisun tentara Red Ants itu gagal ditaklukkan meski telah dikirim bala bantuan brigade defensif Phragmotican[4] untuk menangkis unit-unit Odontomasus[5] yang terkenal agresif, tetap saja pasukan super elit tersebut tak berkutik menahan serangan balik para pembela kota. Dengan situasi yang nyaris serupa, kekalahan karena masalah logistik, sebuah perkara klasik sekaligus krusial di dunia kemiliteran.

“Segera adakan rapat darurat. Utus kurir keseluruh sentral komando, panggil semua panglima angkatan bersenjata!” Perintahnya.

Ampiteater pribadi panglima tertinggi itu segera dikosongkan. Sebelum mega di ufuk barat menghilang seluruh komandan armada tempur dari penjuru negeri telah berkumpul. Tidak mudah mengundang jenderal yang bertugas di wilayah pada jarak beberapa hari perjalanan darat hanya dalam waktu yang singkat. Para perwira tinggi itu dapat tiba tepat waktu dengan mengendarai sejenis belalang gurun dengan daya jelajah yang super cepat, Desert Locust[6]. Emperium raksasa ini tentu membutuhkan efesiensi waktu dalam tiap denyut nadi sistem administrasi negara, selain dipimpin oleh kepala pemerintahan tegas dan otoritarian seperti Lord Nassutz.

Derap langkah pasukan Globullar mengawal sebuah tandu bergema memasuki Ruang pertemuan. keluar dari balik tirai Ratu Rhinoa Elithrya diiringi barisan pelayannya. Ratu bangsa rayap itu berkenan hadir dalam rapat darurat untuk menyampaikan pandangannya mengenai situasi terakhir pasca ‘Autumn Operation’, sandi yang digunakan dalam agresi pembebasan Chameleon Base. Dalam dunia serangga, peran seekor ratu amat berpengaruh terhadap arah dan pola kebijakan politik sebuah koloni. Ratu rayap bukanlah pengecualian, setiap kata dalam ucapannya merupakan hukum negara, setingkat dengan undang-undang yang dipegang oleh Majelis Agung. Hirarki dan kasta, sifat anthroposentris[7] dalam kehidupan koloni ini tergambarkan secara apik, bak simfoni interaksi masing-masing individu memainkan perannya.

Kasta ksatria seperti Globullar, Nasute dan sejenisnya tidak mampu bertahan hidup tanpa dukungan rayap-rayap pekerja yang melayani kebutuhan logistik. Bukan suatu yang luar biasa jika sebuah pasukan besar dapat kehilangan moral bertempur sehingga dapat dilumpuhkan secara mudah hanya dengan dihancurkannya ransum makanan dan dpisahkan dari rayap pekerja trophallaxis[8]. Kelemahan mendasar ini benar-benar dimanfaatkan oleh jenderal-jenderal Red Ants yang sejak awal telah mempelajariya.

Kegagalan ‘operasi musim gugur’ yang dipimpin jenderal Bellickosus disebabkan kekeliruannya membaca langkah strategik yang dilakukan musuh. “Kelincahan gerak serdadu semut amat sulit diprediksi” kilahnya. “Setiap manuver menghasilkan efek serangan yang bervariasi dan mematikan. Terkadang tusukan-tusukan ke jantung pertahanan hanyalah pengalihan saja, sedangkan serangan yang sesungguhnya adalah menghancurkan divisi logistik yang jauh dibelakang garis pertempuran”.

Taktik brilian lainnya yang diterapkan anak buah Antius Alpha adalah kesuksesan penyergapan di lembah berpasir, dikaki bukit hutan Gramini. Insiden Lembah Pasir itu merupakan peristiwa memalukan dalam sejarah kejayaan klan Subterranean Termite yang membentang dari padang rumput ‘hutan’ Gramini hingga bibir rawa Dragonest sarang para naga terbang disebelah timur, sampai kota Karang Kecil yang dua tahun lalu masih milik kerajaan semut.

Rapat melelahkan itu berlangsung semalaman. Poin penting yang dihasilkan salah satunya adalah pengalihan tugas kepemimpinan Autumn Operation dari Jenderal Bellickosus kepada Pangeran Cubitermius Elithrya, putera mahkota kerajaan rayap. Walaupun pola kerajaan mereka menganut sistem Matrilineal, dimana kepala negara atau kerajaan dikuasai oleh garis keturunan dari pihak ibu, namun untuk kepala pemerintahan dan administrator tetap diserahkan kepada pihak yang paling berkompeten. Dalam hal ini pemerintahan tidak bersifat matriarkhi melainkan tunduk pada mekanisme Musyawarah Majelis Agung.

Poin lain membahas strategi baru yang diajukan Panglima tertinggi Autumn Operation III serta rencana aliansi dengan ‘gerombolan’ klan Wasp. Untung rugi kerjasama persekutuan ini berdampak sangat luas, terutama mempengaruhi pamor kerajaan. Reputasi mereka yang terkenal licik dan beringas, bermental pengecut dan tidak pernah mengenal istilah imbang atau adil dalam setiap perundingan. Sederhanya, Klan Wasp adalah Perampok! Rakyat akan menilai aliansi ini sebagai bukti lemahnya pemerintah dibawah kendali Lord Nassutz.

“Keputusan pemerintahan Nassutz sungguh tidak populer. Mengapa semakin tua ia malah menjadi semakin kekanak-kanakan, tingkahnya kini seperti larva!” Kritik seekor Fairyfly[9] disebuah bar menyeletuk, diikuti gelak tawa para pengunjung.

“Demi ratu rayap! Jika aliansi ini gagal, dan kita kembali berdamai dengan semut, aku akan mentraktir kalian semua yang ada disini” sumpah pengunjung yang lain diujung meja, seekor Pseudergate[10].

Bagaimanapun, strategi telah disusun, pucuk pimpinan sudah ditunjuk. Hari ini Mound Dome dipenuhi ratusan ribu tentara rayap, mulai dari infantri gerak cepat Elite Nasute sebagai garda terdepan, pasukan ‘beladiri’ Phragmotican, hingga Globullar yang ditugasi mengawal divisi logistik, serta brigade tempur elit super rahasia, Dimorvicon. klan Subterranean Termite sedang bersiap memobilisasi seluruh kekuatannya. Perang besar segera dimulai.

***

Anthill, julukan untuk semua kota para semut lembah. Sebuah kota tentara berdiri diantara rimbunan rumpun lili. Didepan gerbangya membentang luas padang rumput Gramini, kuning keemasan diterpa matahari sore musim gugur, bagaikan bulu rubah melambai tertiup angin utara yang membekukan. Para pekerja konstruksi klan Red Ants terlihat kelelahan memperbaiki dinding-dinding benteng. Beberapa menara berwarna jingga tempat mengintai musuh yang seakan baru kemarin menjulang megah, kini hanya berbentuk puing-puing. Kenyamanan penduduknya telah lama terusik akibat perang brutal, menyisakan kepedihan ditiap sudut kota.

Kota yang menjadi incaran Lord Nassutz ini seperti tidak pernah tidur. Kekhawatiran atas serangan susulan menjadi cambuk penyemangat untuk mengembalikan kebanggaan yang dulu pernah berjaya. Siang malam aktivitas semut pekerja terus berjalan. Dipusatkan pada renovasi benteng disekeliling kota, pembangunan kembali itu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Ribuan semut pekerja dikerahkan, arsitek-arsitek dari klan Weaver Ants[11] didatangkan, belum lagi kumbang-kumbang bulldozer yang diterbangkan dari hutan pinus Greystone. Agaknya Antius Alpha menyadari betul arti penting mempertahankan salah satu kota satelitnya ini.

Chameleon Base, dahulu merupakan Bivouac[12] atau tenda peristirahatan sementara para pedagang antar klan serangga, kemudian berkembang menjadi kota transit yang menghubungkan tiga kerajaan besar: Subterranean Termite, Red Ants, dan Fire Ants. Posisi strategis kota yang bersifat heterogen dengan sistem administrasi dikuasai serangga Myrmica[13] ini kini dihuni berbagai klan serangga mutualis seperti kutu daun, larva kupu-kupu, kepik, dan jangkrik. Mereka dikenal dengan sebutan Myrmecophilian[14], sahabat para semut. Myrmecophile, sekutu klan semut adalah mereka yang selalu bahu-membahu memajukan kota Chameleon Base. Para Aphid (kutu daun) misalnya, keahlian mereka sangat diperlukan dalam memproduksi honeydew[15] dari getah tumbuhan sekitar, sebagai sumber tenaga dan minuman kesehatan dimusim kemarau karena khasiatnya yang menyegarkan. Chameleon Base merupakan kota industri, penyuplai terbesar madu non lebah bagi kota Cathedria, ibukota kerajaan Subterranean Termite, musuh sekaligus sumber devisa. Cukup satu kata untuk menggambarkan situasi ini, ironik.

Tidak jelas mengapa kota ini disebut Chameleon Base. Tidak secuilpun tanda, bentuk maupun pola yang merefleksikannya dengan chameleon (bunglon). Bentuk luarnya hanyalah gundukan tanah setinggi tiga kaki (lebih kurang 1 meter), dikelilingi menara-menara tinggi dengan dinding ornamen jingga menandakan bahan bakunya berasal dari lapisan tanah dalam. Artinya terowongan-terowongan yang digali membentuk jaringan labirin itu mencapai beberapa meter kearah pusat bumi.

Langit cerah bertabur bintang, menyambut kadatangan malam yang dingin dibulan September. Jauh kearah matahari terbit terdapat bongkahan membentuk bola lonjong seperti buah labu yang kering dan menghitam menggantung di dahan pohon oak. Disanalah para Wasp si perampok berhura-hura menghabiskan jarahan mereka, mabuk sambil menari diatas hasil jerih payah serangga lain. Wasp adalah serangga predator yang amat kejam. Pekerjaan kotornya menculik larva-larva serangga untuk dijadikan pekerja paksa di tambang-tambang Mudpulp[16] atau dijual ke pasar budak.

Duduk di singgasananya ketua gerombolan Wasp, Dominicus Vespulius. Dialah yang membuat seluruh penghuni Greystone hidup dalam ketakutan yang mencekam. Kemasyhurannya di dunia kegelapan layak disejajarkan dengan saudara-saudaranya dari suku Braconid[17]. Serangga iblis yang mampu mengendalikan serangga lain dengan cara menyuntikkan telur-telurnya dalam tubuh hewan lain. ‘Mantra-mantra’ para penyihir ini kemudian mengontrol sistem syaraf, membuat serangga yang terjangkit kehilangan kesadaran seperti mayat berjalan, mereka menjadi zombi.

Mata ocelli[18] Dominicus Vespulius berkilap menginspeksi anak buahnya. Prajurit-prajurit fanatik dan loyal pada tuannya itu sibuk mempersiapkan peralatan-peralatan perang. sebagian terlihat sedang mengasah sengatnya, ada pula yang mencoba baju zirah yang baru didapatkannya, sementara kelompok lain bergerombol melingkari sebatang jamur untuk menghangatkan diri.

Seekor Wasp muncul tergesa-gesa kearah sang tiran, setelah mendapat izin ia mendekatkan kepalanya membisikkan sesuatu.

“Sempurna!” teriak sang pemimpin congkak penuh kepuasan. “Dengarlah prajurit-prajurit setiaku, malam ini kalian akan bergabung dengan legiun rayap, dan kita akan membantu mereka menaklukkan Chameleon Base. Persiapkan amunisimu, Runcingkan sengatmu, songsong peperangan di depanmu. Bersiaplah menuju pesta kemenangan! Hai Menara jingga, kami datang…!”

“Bravo Admiral Dominicus! Hidup klan Wasp!” sahut para prajurit penuh semangat.

Dengungan sayap-sayap wasp memekakkan telinga, menandai sepasukan besar skuadron tempur tengah bergerak. Laksana awan hitam penuh kutuk, gerombolan perampok itu terbang bergulung-gulung, merampas apa saja dalam jalur perlintasannya. Telur-telur serangga menjadi incaran mereka sebagai sumber energi, bahan bakar terbaik selama perjalanan.

Antius Alpha tidak akan memberikan kesempatan kepada para penyerang untuk kesekian kalinya. Mata-mata telah melaporkan bahwa ada indikasi keterlibatan klan Wasp pada penyerangan kali ini. Oleh karenanya melalui gubernur militer Chameleon Base ia telah menginstruksikan divisi artileri anti serangan udara, Brachinus[19] si kumbang pembom. Belum puas dengan pasukan artilerinya, Lord Antius juga melengkapinya dengan ‘amunisi’ Cochineal[20], jenis kutu yang tubuhnya dipenuhi serbuk berwarna merah.

Pasukan koalisi rayap dan wasp berkemah diluar kota, menutup semua akses masuk dan keluar. Ini adalah pengepungan! Meski Perang belum dimulai, namun kegelisahan dibenak prajurit-prajurit semut tergambar pada raut wajah mereka. Faham akan gelagat tak baik ini, Panglima tertinggi Brigade Pertahanan Kota, Gubernur Jenderal Maximus Formicus menenangkah hati para prajurit.

“Sekarang adalah hari yang besar. Setiap prajurit yang bergabung dalam misi pertahanan ini akan menjadi pahlawan dan akan dikenang sebagai pahlawan diseluruh lembah Greystone. Nama kalian akan tercatat dalam sejarah dan diagungkan oleh anak cucu kalian. Persiapkan dirimu, teguhkan hatimu, runcingkan sengat-sengatmu, tajamkan capit rahangmu. Ingatlah hari ini, sebab mulai hari ini kalian tidak bisa lagi mundur. Hari dimana takdir kota ini diserahkan kepadamu! Bangkitlah wahai pahlawan menara jingga!”

Serasa mendapat suntikan adrenalin, semangat prajurit semut kembali mengalir di pembuluh darahnya. Kepekaan sang jenderal sekali lagi teruji. Namun ia masih bimbang, sampai kapan prajurit-prajuritnya mampu menahan keberingasan tentara Nassutz yang begitu terobsesi pada kotanya? Jawaban yang tentunya hanya didapat setelah peperangan ini usai.

Sebuah grup utusan rahasia membuyarkan konsentrasinya menunggu untuk dipersilakan masuk. Mereka tidak mengenakan baju zirah elytra[21], mengisyaratkan mereka bukan dari kesatuan militer.

Sebuah gulungan kertas diberikan kepada sang Jenderal. Surat yang dibubuhi stempel pribadi Pemimpin Subterranean Termite, tercetak dari cincin Nassutz Termitius itu berbunyi:

“Dari Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Subterranean Termite

Jenderal Tertinggi Nassutz Termitius

Kepada Kepala Pemerintahan Chameleon Base

Gubernur Jenderal Maximus Formicus

Pasak kemah telah dihujamkan

serdadu musuh telah dibariskan

menara jingga yang diagungkan

hendak terbakar dan dilupakan

hajat samar ‘kan diterangkan

demi damai yang menenangkan

Jikalah tak bertepuk sebelah tangan

tinggalkan yang terbijak disisi tuan

Semoga kedamaian selalu menaungi lembah Greystone.”

Satu jam lamanya Jenderal Maximus Formicus termenung sambil sesekali memandangi surat tawaran yang diajukan pemimpin para rayap, surat yang disampaikan dengan gaya metafora itu bermakna sangat dalam dan amat menentukan nasib kota. Otaknya terus berputar, ia menyadari sebuah keputusan beresiko tinggi harus segera diambil. Akankah kedamaian kembali melingkupi Greystone jika ia menuruti tawaran ‘peta jalan damai’ ini? Ataukah kedamaian hanya bisa direngkuh dengan memukul mundur gabungan dua pasukan super masif tersebut dengan tangannya sendiri?

Maximus memanggil utusan tertua ke ruang pribadinya dan mempersilakan yang lain kembali. Kemudian tawaran musuh itu disampaikan sang utusan. Ia hanya manggut-manggut saja ketika utusan musuh itu menerangkan dimana posisi keberpihakan klan Subterranean Termite sebenarnya dalam pertarungan memperebutkan Chameleon Base ini. Semua argumentasi disampaikan, seluruh strategi dibeberkan, keputusan telah diambil.

Awalnya ia meragukan beberapa opsi yang diajukan Lord Nazzuts. Bagaimana mungkin ia dapat mempercayai musuh yang selama ini memerangi serta menginginkan kotanya? Dan ia tidak memiliki cukup waktu mendiskusikannya dengan jenderal tertinggi Antius Alpha. Tapi ia tahu bahwa Nassutz Termitius adalah pemimpin yang selalu memegang kata-katanya. Lagi pula dalam sejarah keseranggaan rayap merupakan serangga pemakan kayu yang defensif, tidak suka menyerang. Sebaliknya, klan Red Ants adalah semut karnivora yang bersifat agresif.

***

Perang terbuka dimulai, pasukan Nassute di sayap kanan bergerak marching mendekati gerbang kota dalam barisan rapat sambil memayungkan perisainya diatas kepala, diikuti satuan kecil tentara wasp terbang di atasnya membentuk formasi menyerang. Brigade bertahan melepaskan bom-bom Cochineal kearah pasukan darat yang sedang bergerak itu. Asap merah mengepul memenuhi medan perang. Secara tiba-tiba satuan super elit Dimorvicon muncul dari balik barisan rapat Nassute kemudian mendobrak gerbang utama kota Chameleon Base. Gerbang kota mulai retak. Belum ada reaksi balasan dari tentara semut yang mengawal gerbang.

Serangan berikutnya ‘jet-jet’ tempur wasp memberondong ke puncak menara-menara kota dengan sengat beracunnya, disambut dengan bombardir pasukan anti serangan udara Brachinus menyemburkan cairan panas ketubuh pasukan wasp. Korban dari kedua belah pihak berjatuhan. Dominicus segera mengirim pasukan bantuan. Serangan ini berhasil memukul brigade pertahanan di garis depan, sebuah menara rebah berantakan.

Di depan gerbang, Dimorvicon, tentara rayap bertubuh raksasa itu baru saja berhasil menjebol pintu utama. Dalam sekejap satu batalion Phragmotican berhamburan ke pusat kota. Seekor komandan rayap berteriak memerintahkan pasukan berhenti. Ia menyadari sesuatu yang tak lazim sedang terjadi. Jalanan sepi, blokade-blokade kosong, rumah-rumah dan pertokoan tertutup rapat. Benarkah kota kebanggaan para semut telah dikhianati oleh penduduknya sendiri? Pangeran Cubitermius Elithrya turun dari kereta perangnya tersenyum puas penuh kemenangan. “Akhirnya, satu langkah lagi menuju kedamaian” bisiknya.



[1] Globullar adalah kata rekaan dari istilah globular, yang merupakan jenis rayap parajurit berkepala besar (phragmotic), bertugas memblok pintu sarang koloni menggunakan kepalanya untuk menghambat serangan penyusup.

[2] Nasute adalah jenis rayap prajurit yang memiliki nasus (hidung bersengat) beracun.

[3] Stag beetle (Lucanus cervus) adalah sejenis kumbang tanduk. Saat musim kawin mereka memperebutkan betina dengan berkelahi dan sering terlihat seperti atlet yang sedang bergulat.

[4] Phragmotican diambil dari kata phragmotic adalah jenis rayap prajurit yang memiliki capit (mandible) yang berukuran besar.

[5] Odontomasus atau Odontomachus adalah genus dari semut karnivora (pemakan daging).

[6] Desert Locust (Schistocerca gregaria) adalah sejenis belalang gurun yang hidup di semenanjung afrika utara bagian timur dan menjadi hama bagi petani.

[7] Anthroposentris, memiliki cara hidup seperti lingkungan manusia.

[8] Trophallaxis adalah perilaku transfer makanan pada serangga dari mulut ke mulut atau dari anus ke mulut.

[9] Fairyfly atau lalat peri adalah jenis tawon terkecil.

[10] Pseudergate adalah rayap bersayap (laron) yang gagal dalam metamorfosis, sehingga sisa hidupnya hanya berfungsi sebagai rayap pekerja.

[11] Weaver Ants (Oecophylla smaragdina), adalah jenis hewan yang hidup di pohon (Arboreal) dikenal dengan sebutan semut rangrang.

[12] Bivouac adalah sarang sementara sebagai ‘tenda’ yang dipakai dalam migrasi serangga sosial.

[13] Myrmica, genus dari semut merah.

[14] Istilah Myrmecophilian diambil dari kata myrmecophile yaitu organisme yang berasosiasi dengan semut. Secara literal berarti ant-loving, merefer pada hubungan mutualis (simbiosis mutualisme) dengan semut.

[15] honeydew merupakan madu yang dihasilkan oleh kutu daun ketika menyerap getah tumbuhan, madu yang keluar dari anusnya kemudian dimanfaatkan oleh semut.

[16] Mudpulp adalah tanah lumpur atau bubur kertas yang digunakan tawon (wasp) untuk membangun sarang

[17] Braconid, sejenis tawon bersifat parasit bagi serangga terutama ulat dan kutu daun.

[18] Ocelli adalah mata sederhana yang dimiliki serangga seperti tawon dan laba-laba. Dapat merasakan cahaya tetapi tidak bisa mengetahui arahnya.

[19] Brachinus, kumbang tanah yang mampu mengeluarkan dua cairan (hidrokinon dan hidrogen peroksida) yang ketika bercampur menghasilkan senyawa yang sangat panas.

[20] kutu daun cochineal adalah serangga yang selama hidupnya hanya menempel pada sesuatu dan tidak bergerak sama sekali (sessile). Cochineal menghasilkan tepung pewarna yang disebut cochineal, berwarna merah tua (crimson).

[21] Elytra atau elytron, sayap keras pada serangga yang melindungi sayap transparan, terbuat dari zat kitin dan sejatinya merupakan kerangka luar (eksoskeleton)

Sadhana

September 4, 2008

Melarikan diri dari sisa trauma psikologi yang kau alami, menutupi kekecewaan atas kekerdilanmu, yang kau anggap sebagai kegagalan rasiomu menalar dan memilih sebuah keputusan hidup, adalah tujuanmu ‘hijrah’ untuk sebuah maksud, mendulang pengetahuan di negeri seribu menara itu. Kau pernah menutup mata untuk melihat kenyataan. Kau juga pernah menutup telinga untuk mendengar kebenaran. Kini, kau mengira dengan merubah lingkungan dan karaktermu, kau dapat menemukan kembali plot perjalananmu yang pernah hilang dulu, terhempas badai. Kau mencoba memilih kembali peranmu pada sepotong screenplay, sandiwara yang disebut kehidupan dunia.

Apa yang kau rencanakan itu setidaknya menunjukkan resultan, jika tidak dikatakan berhasil. Kau mulai disebut berbudaya, beradab. Apapun maksudnya itu, mungkin terlihat dari perubahan penampilanmu, kau meminyaki dan menyisir rambutmu, merapikan pakaianmu, membaca bukumu, dan berinteraksi dengan lingkunganmu. Tetapi bukan itu tujuanmu sebenarnya, kau menginginkan sebuah sadhana, jalan pencerahan. Akalmu mendambakan taburan benih-benih pengetahuan spiritual. Kesempurnaan akhlak.

Saatnya untuk menempuh perjalanan panjang. Hari yang kau lalui bukanlah semudah yang dibayangkan. Akan ada banyak hal tak menyenangkan yang kau temui. Badai itu akan menghampiri lagi. Vice versa, banyak hal menarik yang harus kau simpan dalam memorimu. Tentu saja, kau tidak bisa memberikan gambaran yang lengkap tentang lembah Nil ini. Hanya beberapa hal yang kau anggap perlu dicatat, mungkin karena unik atau hanya ada di Mesir dan sekitarnya. Atau, hanya itu yang saat ini teringat di kepalamu, sekarang.

Satu pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab, apa yang akan terjadi sesudah hari ini. Diantara mereka banyak yang melupakan dan sedikit yang mau mengingat bahwa tidak ada masa depan tanpa masa lalu. Kesadaran mulai menggelitikmu. Langkah kecil yang kau ayunkan akan selalu memiliki arti. Itulah awal dari perjalanan panjangmu.

Al-Azhar Al-Syarif, telah melahirkan ulama-ulama kaliber internasional. Ia merupakan sebuah lembaga pendidikan bercorak agama Islam tertua dengan sistem administrasi yang juga ‘tua’. Tak pelak, masalah ini mewarnai hari-hari pertamamu untuk menyelami lebih dalam kehidupan Azhari. Mondar-mandir Murakkib-KBRI-Gawazaat, demi mendapatkan visa pelajar. Konsekuensi bagi para penerjun bebas, yaitu mereka yang mendaftarkan diri ke Al-Azhar tanpa melewati tes Depag RI.

Kau tak bisa mengelak dari takdirmu. Kau bukan santri dari Pesantren yang besar atau sekolah negeri yang terkenal. Riwayat pendidikanmu pun tidak mulus, straight seperti meraka kebanyakan. Dilain fihak, kau mengalami gejolak emosional.

Jika mengingat masa-masa itu, saat dimana depresi menghantuimu, suara-suara itu, membuatmu berfikir secara irrasional. Dadamu menjadi sesak, hatimu terasa sakit. Kau kehilangan respon emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Namun kini kau tidak boleh berfikir secara hipokrit, merasa mengalami kegalauan berat, menjadi seorang skizofrenik. kau telah kembali, normal.

Tidak! Kau bahkan tidak pernah menderita penyakit psikotik! Keadaanlah yang menjadikanmu afektif, antisosial. Pubertas masa remaja, lingkungan sekelilingmu, energi itu kau mampatkan jadi satu, kau coba leburkan kedalam hatimu yang masih suci dan belum terkontaminasi oleh polemik kedewasaan. Jiwamu bersih, tapi akal budimu belum sanggup membendung dan menghadapi luapan badai ini. Satu-satunya ‘kesalahanmu’ adalah kau berhenti melangkah. “Jangan pernah berhenti melangkah, jangan pernah mengeluhkan sesuatu”, kalimat idealis itu menasehatimu. Tapi kau merasa kita sebaiknya berhenti karena memang ada yang mesti dihentikan atau karena kita merasa perjalanan itu tidak ada manfaatnnya.

Pada kenyataannya, kedewasaan seseorang tidaklah ditentukan oleh berapa tua usianya. Karena tidak semua orang yang berumur diimbangi dengan kematangan kedewasaan diri yang sepadan. Tidak sedikit orang yang telah berumur belum menemukan kedewasaannya atau justru tidak ingin menjadi dewasa. Tetapi kau menemukannya, disini.

Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kau membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kau memilih bagaimana bereaksi terhadap semua kondisi. Kau memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kau memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Bagaimana kau hidup. itu adalah pilihanmu. Memang benar pada satu sudut pandang. Hanya saja hidup ini tidak sesederhana mata uang dengan dua sisi saja, kau hanya bisa memilih satu diantara keduanya. Perjalanan hidupmu adalah dinamis, begitu kompleks, relatif dan bergantung pada persepsi yang subyektif. Satu lagi, penuh intrik.

Apakah hidup ini merupakan multiple choices? Lalu, apakah berhenti melangkah berarti telah melakukan sebuah pilihan? Kehidupanmu akan lebih baik jika hidup dengan pilihanmu sendiri. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untukmu.

Kau belajar bahwa tiap hari kau dapat memilih apakah kau akan menikmati hidupmu atau membencinya. Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga ketika kau bisa mengendalikannya tiba-tiba segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah. Kau mensyukurinya.

Kau merasa lebih baik. Ternyata yang kau butuhkan dalam hidup ini adalah bersyukur atas nikmat Tuhanmu dalam berkat-Nya. Keberkahan, berkumpulnya segala kebaikan ilahiah dalam diri seseorang bagaikan berkumpulnya air dalam sebuah cekungan. Apabila berkah terdapat pada sesuatu yang sedikit, ia akan berkembang menjadi banyak, bila berkah itu terdapat pada sesuatu yang banyak, maka ia akan semakin bermanfaat. Perlahan namun pasti, cekungan itu telah manjadi telaga.

Sebuah telaga jiwa yang jernih, tenang. Pelepas dahaga dan tempat peristirahatan yang nyaman. Terkadang fikiranmu terhanyut, telaga mudah mengering, meninggalkan garis air, riak dan lumpur. kau membayangkan samudera. Kedalaman dan keluasannya, tempat mencari ikan bagi nelayan, mutiaranya yang indah, ditepinya berdiri kota-kota bandar, para penjelajah memperoleh pengalaman batin tatkala mengarunginya. Dibalik keagungan samudera, gelombang badai menerjang, getir menciutkan nyali, mengaramkan perahu, menyapu desa-desa pesisir. Kau faham, dalam kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar.

Dua tahun berlalu begitu singkat, renunganlah yang menjadikannya bermakna. Satu hari yang abadi adalah hari ini. Hari kemarin tak bisa kau ubah, relakanlah. Hari esok tak bisa kau ketahui, songsonglah. Hari ini, pintu masa lalu telah tertutup, pintu masa depan belum tiba. Kau dapat mengerjakan banyak hal buat hari ini. Lakukanlah. Jujur dalam hidup, apa adanya. Karena yang ada hanya hari ini. Kau memiliki paradigma baru mengenai relativitas waktu. Masa lalu ada dalam memori, masa depan ada dalam imagi.

Kau bukanlah individu yang idealis dengan teori hidup yang sudah terlukis indah di kanvas putih, namun kau telah banyak memberikan coretan warna di kanvas tersebut. Kau menyadari dan semoga tetap sadar bahwa ilmu itu akan didapat dimanapun dan dengan jalan apapun, bahkan kebijaksanaan dapat direngkuh dari seorang anak kecil sekalipun. Semoga perjalananmu ke negeri Firaun menjadi sepenggal cerita dan bagian pencarian ilmu dalam hidupmu.

Hanya satu harapanmu. Semoga badai itu membawamu ke lembah yang penuh cinta dan kebijaksanaan seperti lembahmu saat ini.

KSATRIA GREYSTONE [Bag. 1]

September 3, 2008

Kabut tipis menyelimuti rawa Greystone, merembes sampai ke celah-celah bebatuan granit. Dingin dan senyap. Hewan-hewan nokturnal mulai keluar dari sarangnya. Seekor viper (ular derik) merayap diantara akar konifer, disalah satu cabang pohon jenis pinus tersebut bertengger masked owl (jenis burung hantu). Pupil matanya berkilap memantulkan cahaya bulan. Jika membaca gerak tubuhnya jelas sekali ia sedang membidik sasaran, seekor cecurut yang sedang melahap cacing tanah.

Cahaya redup-terang silih berganti menyeruak dari rekahan gundukan tanah di sela-sela rumput liar yang kini mulai menguning. Mendekat lebih dalam terdengar bunyi musik diiringi derik trio jangkrik menghasilkan bentuk irama orkestral yang unik. Kumbang menari bersama beberapa serangga air. Lebah madu menuangkan royal jelly kedalam gelas dari kelopak bunga, Julus si kaki seribu mengitari area pesta, hentakan kaki-kakinya menambah riuh suasana, dipunggungnya anak-anak semut bersorak kegirangan. Tictus si kutu memainkan sulapnya. Kunang-kunang bergelantungan diatas panggung, sebagian menari membentuk aneka ragam formasi, menyinari balairung luas milik Antius Alpha, Jenderal tertinggi tentara semut dari klan Red Ants.

Malam ini adalah perayaan kemenangan sebuah perang besar, sedikit dibandingkan dengan kekalahan-kekalahan dibanyak medan pertempuran lain. Merayakan sebuah kesuksesan menahan agresi diktator Nassutz Termitius, pemimpin bangsa rayap dari koloni Subterranean Termite yang telah dua kali berusaha menguasai Chameleon Base, salah satu kota garnisun milik klan Red Ants. terletak dibagian barat Greystone.

Seekor perwira semut tiba-tiba berdiri, tubuhnya sudah tidak lengkap lagi. Tangan kanan dan sebelah sungutnya putus. Ia ingin menceritakan bagaimana pasukannya mengalahkan legiun musuh.

Setelah memperkenalkan diri, mulailah ia bercerita.

“Ketika itu di hutan rumput, Gramini, sudah lima hari kontak kami terputus dengan komando utama”, sang perwira membuka kisah, suaranya parau. Berikutnya ia melanjutkan.

Pagi yang dingin hingga sanggup membekukan ujung sungutmu. Kabut mengembun, berkumpul dan menempel di badan, membuat kondisi kian mencekam. aku bahkan tak dapat lagi merasakan tanganku yang sedang menggenggam tongkat komando. Ransum makanan mulai menipis, pasukan terlihat kelelahan. Namun misi kami sudah jelas. Memotong jalur logistik musuh.

Aku menunjuk seekor prajurit muda untuk melakukan scouting, mengumpulkan informasi kondisi medan, posisi dan jumlah kekuatan musuh. Setelah menerima instruksiku iapun keluar dari balik rumpun.

Dua jam berlalu, prajurit itu belum kembali. Aku mulai khawatir. Efesiensi pasukan sangat penting bagiku. Pasukan kami cuma 1 unit Peltarion, berfungsi sebagai skirmisher (penahan serangan musuh), 2 unit pasukan pemanah (semut bersayap pembawa misil/racun) serta 1 unit pasukan utama, Phalanx, pendobrak. Maka kuputuskan dua prajurit untuk menjemput si mata-mata.

Matahari telah condong ke barat, tatkala ketiga prajurit kembali. Seluruh komandan pasukan sudah berkumpul menunggu pengarahanku. Seekor prajurit melaporkan saat ini pasukan musuh sedang melintasi rute yang biasa dilalui pedagang antar klan serangga, artinya malam ini mereka akan melewati tepi lembah pasir, atau setidaknya berkemah didekat lembah tersebut.

Ia melanjutkan laporannya bahwa kekuatan musuh terdiri dari 4 unit Elite Nasute, 2 unit Peltash (peltarion) yang mengawal 20 kumbang badak pengangkut ransum dan obat-obatan, serta pekerja konstruksi dan paramedik. Kalau dihitung secara statistik pasukan mereka sungguh lebih unggul secara persenjataan dan pengalaman perang dibanding kekuatan kami. Selain itu Nassutz Termitius sangat licik, biasanya para pekerja konstruksi dan paramedis dipersenjatainya dan memperoleh pelatihan militer, menjadikan mereka memiliki fungsi ganda. Dimata Lord Nassutz, para pekerja adalah prajurit, Hoplite.

Melakukan serangan frontal sekaligus tidak akan berguna. Maka kami harus memanfaatkan topologi dan kondisi alam yang ada. Aku menyadari bahwa tugasku hanya menghambat dan memotong jalur logistik, bukan menghancurkan pasukan musuh.

Para perwira berdebat mengenai strategi yang akan dipakai, sebagian menginginkan pertarungan konvensional, all out. Tetapi aku memutuskan penyerangan dengan taktik hit and run saja. Karena pasukan kami yang terbatas diperparah dengan moral yang menurun lantaran ransum yang menipis. Penyergapan dilakukan malam ini dengan tigaperempat kekuatan. Tujuannya untuk mengetahui kekuatan lawan dan merampas sebagian ransum, sekaligus demoralisasi pasukan musuh.

Setelah briefing singkat dan penentuan posisi, pasukan mulai bergerak kearah bukit diatas perkemahan musuh. Dengan aba-aba dariku setengah dari Phalanx yang jumlah perunitnya seratus delapanpuluh prajurit itu merangsek ke perkemahan musuh. Gelombang kedua, pasukan pemanah menyerbu masuk mengangkut ransum-ransum makanan, sementara Peltarion menahan pasukan musuh yang mulai menyusun kekuatan. Pasukan pekerja konstruksi lari tunggang-langgang. Sedetik kemudian terompet tanda penarikan mundur pasukan membahana, memecah kepanikan. Para penyergap kembali kekegelapan rimbunan hutan Gramini.

Pasukan berhasil keluar dari medan pertempuran dengan luka-luka yang tidak seberapa. Kerugian dipihak musuh terlihat jelas, beberapa kumbang pengangkut terjebak kedalam pasir. Penyergapan ini merupakan terapi kejut yang menggoyahkan semangat dan moral musuh. Sebuah kesuksesan yang gemilang.

Barikade disekitar perkemahan musuh telah dibangun. Taktik gerilya ini tak bisa diterapkan sekali lagi. Musuh pasti sudah membacanya. Barikade tersebut memang efektif menahan serangan bergaya ‘serang lalu kabur’ seperti yang kulakukan malam tadi. Kali ini aku harus menemukan titik kelemahan mereka, segera.

Kuperhatikan ternyata pasir merupakan musuh alami serangga bertubuh tambun dengan kaki-kaki yang ramping. Sifat ‘renyah’ pasir membuat gerakan mereka menjadi lamban sehingga rawan terhadap serangan. Pertanyaannya, bagaimana membuat kumbang-kumbang badak itu terjebak dalam lembah pasir, sementara pasukan elit musuh masih sangat kuat?

Terus terang, aku tidak suka berurusan dengan Elite Nasute yang terkenal kejam itu. Ditambah lagi penglima mereka adalah yang bertanggungjawab ‘menyapu’ kota Karang Kecil diutara Greystone tahun lalu. Mayor Predatius Mandibyle.

Sedangkan aku adalah perwira ‘karbitan’ yang memperoleh kenaikan pangkat luar biasa ketika menyelamatkan setengah penduduk kota Karang Kecil dari aneksasi sang mayor.

Tak bisa kubayangkan keberingasan tentara Mandibyle saat memasuki kota. Ia mengelompokkan penduduk menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, penduduk non semut. Kelompok kedua, semut pekerja, betina dan anak-anak (larva). Kelompok ketiga, semut prajurit dan bangsawan, termasuk ratu.

Sangat terang dalam ingatanku tatkala sang mayor menggiring kelompok ketiga dalam sebuah lubang maut, sarang para Wasp, termasuk klan tawon penyengat paling biadab. Ratu semut yang sudah terluka parah diseret dengan taring-taring mereka yang kotor, dijebloskan dengan paksa kedalam lubang gelap yang sempit itu. Jeritannya menyayat hati. Kemudian satu persatu prajurit-prajurit yang tertangkap mereka lemparkan kedalamnya. Sungguh keji dan tanpa belas kasih.

Ketika aku dilemparkan kedalam sarang maut itu, aku melihat sebuah celah sempit diantara tumpukan mayat koloni bangsaku. Kupaksakan tubuh kecilku keluar. Aku tidak peduli lagi pada sungutku yang rusak. Sisa tenagaku hanya untuk satu hal. Menyelamatkan semua yang dapat diselamatkan.

Tiba-tiba ide itu memecah lamunanku, memisahkan unit tentara musuh. Unit Nasute merupakan pasukan pendobrak, jika aku dapat memancing mereka keluar dari barikade pertahanan, mungkin selanjutnya pasukan lain dapat mengatasi dua unit Peltash dan pasukan Hoplite.

Semua unit Peltarion dan Phalanx masing-masing kubagi dua, grup Alfa dan Zulu. kemudian satu unit pasukan pemanah kutempatkan pada kedua grup pasukan yang sekarang lebih ramping namun fresh dan solid.

Pagi ini grup Alfa telah berada pada jarak jangkauan panah diluar barikade. Yel-yel diteriakkan. Hujan anak panah meluncur, hampir sepertiga tentara gabungan Elite Nasute jatuh menggelepar ketika mereka mulai terintimidasi keluar dari barikade pertahanan. Seluruh Elite Nasute memburu pasukan pemanah, insting sebagai pasukan pendobrak mempengaruhi kecepatan jelajahnya yang dahsyat.

Predatius Mandibyle mengira grup Alfa adalah seluruh pasukanku. Maka ia sendiri yang memimpin perburuan ini. Sesuai kode yang kuberikan, unit Peltarion grup Zulu bergabung dengan pasukan yang sama di grup Alfa. Begitu pula dengan seluruh pasukan pemanah. Misil racun beterbangan kearah pasukan Mandibyle, sementara Peltarion menahan gerak musuh.

Phalanx memutar arah mengitari bukit. Prioritas utama adalah melumpuhkan kumbang pengangkut. Dengan manuver kilat pasukan pendobrak ini menyergap Peltash yang sedang lengah didalam barikade, terus merangsek masuk membuat kumbang-kumbang badak berlarian menjauh kearah lembah pasir. Kaki-kaki serangga gemuk itu terperosok kedalam pasir. Skak mat! Unit Hoplite dari gabungan paramedik dan pekerja konstruksi sudah mengangkat bendera putih.

Disudut lain pertempuran aku sedang bergumul dengan Elite Nasute. Belum jelas kemenangan ada dipihak siapa. Pertarungan melee alias man-to-man combat tak terelakkan. Sekarang aku berhadapan langsung dengan Mandibyle. Ukuran tubuhnya dua kali lipat tubuhku. Aku tak tahu bagaimana keluar dari dilema ini. Sejurus kemudian taringnya mencabik tangan kananku, aku hanya membutuhkan seperseribu detik kesempatan untuk menancapkan sengatku ketubuhnya. Seketika badan kekar sang mayor terjerembab. Jeritannya menggema, para nasute terpana.

***

Setelah aku mengkonsolidasi pasukan dan menginventarisir rampasn perang, kemudian aku kembali ke ibukota melaporkan hasil misi kami di lembah pasir.

Pertarungan memperebutkan lembah Greystone belum berakhir. Nassutz Termitius sedang menyusun strategi baru, berkoalisi dengan klan Wasp. Jika aliansi ini benar-benar terwujud, berarti kita berhadapan dengan dua kekuatan yang amat berbahaya. Sekarang kita bukan hanya membutuhkan aliansi, tetapi juga sebuah tekad yang membaja, semangat yang membara untuk bebas dari cengkraman penjajah. Sang perwira mengakhiri pengalamannya.

Kemenangan sejati bukanlah penguasaan dan perusakan atas hak individu yang lain, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan hak dan kewajiban individu. Disini terbukti, peperangan adalah sebuah arena kekacauan yang konstan, seorang panglima pemenang adalah dia yang dapat mengendalikan kekacauan tersebut, kekacauannya dan kekacauan musuhnya. Dia yang belum pernah merasakan pahitnya sebuah kekalahan, tidak tahu bagaimana merasakan manisnya kemenangan. Sedangkan jenderal yang brilian adalah ia yang benar-benar mengenal dan mengetahui siapa musuhnya.

Catatan Harian Seorang Hamba

September 2, 2008

Alkisah disebuah kampung kecil yang hampir tidak pernah tersentuh oleh peradaban modern, bahkan koran lokal hampir tidak pernah menulis tentangnya kecuali satu baris berita dikolom kriminal, berita kemalingan, itupun sudah lama sekali. Tinggal seorang bocah laki-laki namanya Baidhowi, kelas empat Madrasah Ibtidaiyah, golongan darah B. perawakannya kurus kecil mirip orang-orangan sawah, bedanya si bocah ini kakinya dua sedangkan orang-orangan sawah kakinya cuma satu (ya iyalah, masa ya iya dong). Namanya saja mirip orang-orangan sawah, pakaiannyapun kucel. hobinya kecehan (main air -pen) di sungai sambil menangkap ikan.

Suatu hari, Baidhowi cilik (julukan Emak buat si bocah) pulang dari sekolah bersama seorang temannya. Seperti biasa dalam perjalanan pulang mereka menyusuri persawahan, jalan setapak dan sebuah jembatan tua dari beton peninggalan Belanda yang memotong sebuah sungai besar. Baidhowi merasakan sengatan matahari panas menusuk kulit. “Jir, berenang yuk?” Ujar Baidhowi kepada sahabatnya, Munzir. Anggukan kepala Munzir bukanlah sebagai tanda setuju, melainkan aba-aba lomba lari menuju sungai. Kaki-kaki ramping itu melompat saling mendahului, tidak peduli lagi dangan semak-semak tajam disisi jalan setapak tersebut. Setelah melepas pakaian buru-buru mereka nyemplung (menceburkan diri) ke sungai.

Untuk beberapa saat tubuh Baidhowi tidak timbul. Dua menit menjadi lima menit. Tubuh entengnya tenggelam. Sepertinya pergelangan kaki anak itu terjepit disela batuan sungai. Dalam bawah sadarnya ia melihat seorang pemuda datang menghampirinya, wajah putih itu terlihat samar, Baidhowi tidak mengenalnya, setidaknya ia faham dengan wajah para pemuda kampung. Tetapi pemuda ini sungguh asing baginya. Satu hal yang dapat dikenali Baidhowi, bekas luka di dahi pemuda tersebut.

Ia berusaha menjerit memanggil temannya, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Wajah sang pemuda sudah dekat sekali dengan wajahnya. Baidhowi berusah memberontak, sekarang ia malah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. “Pemuda bodoh! Kenapa kau tidak mau menolongku?” pekik Baidhowi. Yang ditanya hanya diam. Bibirnya tersenyum, matanya menyipit seakan pekikan Baidhowi bagaikan angin lembut berhembus di wajahnya.

Panik karena tidak ada yang datang menolong, ia mulai meronta-ronta. Sekilas ‘sesuatu’ yang sering menghantuinya itu kembali muncul, seperti dejavu. Bocah 10 tahun itu hanya bisa menangis badannya mulai kaku, ujung jemarinya menguning pucat. ‘Bayangan-bayangan’ itu ia alihkan pada ingatan dimasa bercengkrama dengan teman-teman sepermainan, yang selalu bersamanya menangkap ikan di persawahan, mencuri jagung di ladang, berebut menyeruput air kelapa muda. Dalam ingatannya ada Emak, mencuci pakaiannya, merapikan rambut, mengingatkannya untuk mandi sore, menyuruh mengerjakan PR dan mengaji. Ada Bapak, setiap maghrib sholat berjamaah sekeluarga, memarahi kalau ia bolos sekolah, menasehatinya supaya menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga, agama dan bangsa. Untuk beberapa saat ia kembali tenang, nyaman seakan efek narkotik menjalari syaraf kesadarannya, Baidhowi tenggelam.

Bayangan-bayangan itu tiba-tiba muncul lagi, lebih jelas. Memori yang biasa hadir dalam mimpi yang terus mengganggunya. Orang-orang yang asing, belajar bersama, buku-buku itu, berdiskusi bersama. Ah, sampai-sampai sebuah pintu gerbang asrama tergambarkan secara detil, suasana dan lingkungan yang ada di mimpinya itu kini memenuhi alam fikirannya. Ia berada pada tubuh yang asing itu lagi. Jantungnya berdegup kencang, .

“Siapakah kamu?” Tanya Baidhowi kepada sang Pemuda yang sejak tadi memperhatikannya. “Mengapa kau selalu ada disini, dikepalaku? Mengganggu setiap tidurku, memanggilku dengan nama yang asing?”

“Kenapa kau bertanya padaku? Tidakkah kau tahu siapa diriku, siapa dirimu?”

“Jawaban yang aneh,” Pikir Baidhowi.

“Baiklah, jika kau tidak mau memperkenalkan dirimu tidak mengapa, tapi tolong angkat aku dari dasar sungai ini, sekarang.”

Pemuda itu tertawa ringan. “Hai, Baidhowi…, Benarkah namamu Baidhowi? Coba kau buka matamu, lihat sekelilingmu, apakah kau sedang berada di dasar sungai? Sadarlah, wahai hamba Tuhan! Kau bukan seorang anak kecil itu, yang selalu berlindung dibalik kelemahanmu! Menghindar dari ujian yang diberikan Tuanmu! Bukalah matamu, saatnya kau melihat kedewasaan dalam tubuhmu. Bangunlah, pikul tanggung jawabmu. Renungkanlah tujuan hidupmu. Lihatlah kedepan….”

“Cukup! Hentikan! Aku tak tahu apa yang kau bicarakan. Aku hanyalah seorang bocah. Mengapa kau selalu mencampuri hidupku, datang kedalam mimpiku, mengusik tidurku, menghantuiku, mengacaukan pikiranku. Apa yang kau inginkan dariku?”

“Sebaliknya, kau tahu yang kukatakan, jelas dan terang seperti kristal. Dalam lubuk hatimu bahkan kau mengenaliku. Aku datang bukan karena keinginanku. Aku menghampirimu ketika kau dalam puncak deritamu, aku hadir dalam kekecewaanmu, aku menemani perenunganmu. Berdialog dengan akalmu.”

“Lalu, mengapa kau tidak mau menolongku? kau bisa menjulurkan tanganmu untuk kuraih.”

“Keberadaanku disini, sekarang, kemarin, maupun yang akan datang hanyalah bentuk refleksi akan dirimu. Pengetahuan atas dirimu sendiri sebagai realitas dan entitas keakuan adalah elemen yang menyatukan kita. Pernahkah kau menyaksikan seseorang yang histeris ketika penyanyi favoritnya tampil di panggung konser? Memuja semua lagu-lagunya tanpa ‘menyortirnya’? kau menyebutnya sebagai tindakan yang irrasional. Lihat, sekarang kau yang jadi tidak rasional, memamerkan kelemahanmu untuk berharap belas kasih manusia. Maka kukatakan padamu, bangunlah wahai hamba Tuhan! Bersiagalah terhadap segala sesuatu, dari luar maupun dari dalam dirimu. Untuk itulah kau layak disejajarkan dengan mereka.”

Sadarlah. Karena aku adalah kesadaranmu.

bersambung….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.