Catatan Harian Seorang Hamba
September 2, 2008
Alkisah disebuah kampung kecil yang hampir tidak pernah tersentuh oleh peradaban modern, bahkan koran lokal hampir tidak pernah menulis tentangnya kecuali satu baris berita dikolom kriminal, berita kemalingan, itupun sudah lama sekali. Tinggal seorang bocah laki-laki namanya Baidhowi, kelas empat Madrasah Ibtidaiyah, golongan darah B. perawakannya kurus kecil mirip orang-orangan sawah, bedanya si bocah ini kakinya dua sedangkan orang-orangan sawah kakinya cuma satu (ya iyalah, masa ya iya dong). Namanya saja mirip orang-orangan sawah, pakaiannyapun kucel. hobinya kecehan (main air -pen) di sungai sambil menangkap ikan.
Suatu hari, Baidhowi cilik (julukan Emak buat si bocah) pulang dari sekolah bersama seorang temannya. Seperti biasa dalam perjalanan pulang mereka menyusuri persawahan, jalan setapak dan sebuah jembatan tua dari beton peninggalan Belanda yang memotong sebuah sungai besar. Baidhowi merasakan sengatan matahari panas menusuk kulit. “Jir, berenang yuk?” Ujar Baidhowi kepada sahabatnya, Munzir. Anggukan kepala Munzir bukanlah sebagai tanda setuju, melainkan aba-aba lomba lari menuju sungai. Kaki-kaki ramping itu melompat saling mendahului, tidak peduli lagi dangan semak-semak tajam disisi jalan setapak tersebut. Setelah melepas pakaian buru-buru mereka nyemplung (menceburkan diri) ke sungai.
Untuk beberapa saat tubuh Baidhowi tidak timbul. Dua menit menjadi lima menit. Tubuh entengnya tenggelam. Sepertinya pergelangan kaki anak itu terjepit disela batuan sungai. Dalam bawah sadarnya ia melihat seorang pemuda datang menghampirinya, wajah putih itu terlihat samar, Baidhowi tidak mengenalnya, setidaknya ia faham dengan wajah para pemuda kampung. Tetapi pemuda ini sungguh asing baginya. Satu hal yang dapat dikenali Baidhowi, bekas luka di dahi pemuda tersebut.
Ia berusaha menjerit memanggil temannya, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Wajah sang pemuda sudah dekat sekali dengan wajahnya. Baidhowi berusah memberontak, sekarang ia malah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. “Pemuda bodoh! Kenapa kau tidak mau menolongku?” pekik Baidhowi. Yang ditanya hanya diam. Bibirnya tersenyum, matanya menyipit seakan pekikan Baidhowi bagaikan angin lembut berhembus di wajahnya.
Panik karena tidak ada yang datang menolong, ia mulai meronta-ronta. Sekilas ‘sesuatu’ yang sering menghantuinya itu kembali muncul, seperti dejavu. Bocah 10 tahun itu hanya bisa menangis badannya mulai kaku, ujung jemarinya menguning pucat. ‘Bayangan-bayangan’ itu ia alihkan pada ingatan dimasa bercengkrama dengan teman-teman sepermainan, yang selalu bersamanya menangkap ikan di persawahan, mencuri jagung di ladang, berebut menyeruput air kelapa muda. Dalam ingatannya ada Emak, mencuci pakaiannya, merapikan rambut, mengingatkannya untuk mandi sore, menyuruh mengerjakan PR dan mengaji. Ada Bapak, setiap maghrib sholat berjamaah sekeluarga, memarahi kalau ia bolos sekolah, menasehatinya supaya menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga, agama dan bangsa. Untuk beberapa saat ia kembali tenang, nyaman seakan efek narkotik menjalari syaraf kesadarannya, Baidhowi tenggelam.
Bayangan-bayangan itu tiba-tiba muncul lagi, lebih jelas. Memori yang biasa hadir dalam mimpi yang terus mengganggunya. Orang-orang yang asing, belajar bersama, buku-buku itu, berdiskusi bersama. Ah, sampai-sampai sebuah pintu gerbang asrama tergambarkan secara detil, suasana dan lingkungan yang ada di mimpinya itu kini memenuhi alam fikirannya. Ia berada pada tubuh yang asing itu lagi. Jantungnya berdegup kencang, .
“Siapakah kamu?” Tanya Baidhowi kepada sang Pemuda yang sejak tadi memperhatikannya. “Mengapa kau selalu ada disini, dikepalaku? Mengganggu setiap tidurku, memanggilku dengan nama yang asing?”
“Kenapa kau bertanya padaku? Tidakkah kau tahu siapa diriku, siapa dirimu?”
“Jawaban yang aneh,” Pikir Baidhowi.
“Baiklah, jika kau tidak mau memperkenalkan dirimu tidak mengapa, tapi tolong angkat aku dari dasar sungai ini, sekarang.”
Pemuda itu tertawa ringan. “Hai, Baidhowi…, Benarkah namamu Baidhowi? Coba kau buka matamu, lihat sekelilingmu, apakah kau sedang berada di dasar sungai? Sadarlah, wahai hamba Tuhan! Kau bukan seorang anak kecil itu, yang selalu berlindung dibalik kelemahanmu! Menghindar dari ujian yang diberikan Tuanmu! Bukalah matamu, saatnya kau melihat kedewasaan dalam tubuhmu. Bangunlah, pikul tanggung jawabmu. Renungkanlah tujuan hidupmu. Lihatlah kedepan….”
“Cukup! Hentikan! Aku tak tahu apa yang kau bicarakan. Aku hanyalah seorang bocah. Mengapa kau selalu mencampuri hidupku, datang kedalam mimpiku, mengusik tidurku, menghantuiku, mengacaukan pikiranku. Apa yang kau inginkan dariku?”
“Sebaliknya, kau tahu yang kukatakan, jelas dan terang seperti kristal. Dalam lubuk hatimu bahkan kau mengenaliku. Aku datang bukan karena keinginanku. Aku menghampirimu ketika kau dalam puncak deritamu, aku hadir dalam kekecewaanmu, aku menemani perenunganmu. Berdialog dengan akalmu.”
“Lalu, mengapa kau tidak mau menolongku? kau bisa menjulurkan tanganmu untuk kuraih.”
“Keberadaanku disini, sekarang, kemarin, maupun yang akan datang hanyalah bentuk refleksi akan dirimu. Pengetahuan atas dirimu sendiri sebagai realitas dan entitas keakuan adalah elemen yang menyatukan kita. Pernahkah kau menyaksikan seseorang yang histeris ketika penyanyi favoritnya tampil di panggung konser? Memuja semua lagu-lagunya tanpa ‘menyortirnya’? kau menyebutnya sebagai tindakan yang irrasional. Lihat, sekarang kau yang jadi tidak rasional, memamerkan kelemahanmu untuk berharap belas kasih manusia. Maka kukatakan padamu, bangunlah wahai hamba Tuhan! Bersiagalah terhadap segala sesuatu, dari luar maupun dari dalam dirimu. Untuk itulah kau layak disejajarkan dengan mereka.”
Sadarlah. Karena aku adalah kesadaranmu.
bersambung….