Sadhana
September 4, 2008
Melarikan diri dari sisa trauma psikologi yang kau alami, menutupi kekecewaan atas kekerdilanmu, yang kau anggap sebagai kegagalan rasiomu menalar dan memilih sebuah keputusan hidup, adalah tujuanmu ‘hijrah’ untuk sebuah maksud, mendulang pengetahuan di negeri seribu menara itu. Kau pernah menutup mata untuk melihat kenyataan. Kau juga pernah menutup telinga untuk mendengar kebenaran. Kini, kau mengira dengan merubah lingkungan dan karaktermu, kau dapat menemukan kembali plot perjalananmu yang pernah hilang dulu, terhempas badai. Kau mencoba memilih kembali peranmu pada sepotong screenplay, sandiwara yang disebut kehidupan dunia.
Apa yang kau rencanakan itu setidaknya menunjukkan resultan, jika tidak dikatakan berhasil. Kau mulai disebut berbudaya, beradab. Apapun maksudnya itu, mungkin terlihat dari perubahan penampilanmu, kau meminyaki dan menyisir rambutmu, merapikan pakaianmu, membaca bukumu, dan berinteraksi dengan lingkunganmu. Tetapi bukan itu tujuanmu sebenarnya, kau menginginkan sebuah sadhana, jalan pencerahan. Akalmu mendambakan taburan benih-benih pengetahuan spiritual. Kesempurnaan akhlak.
Saatnya untuk menempuh perjalanan panjang. Hari yang kau lalui bukanlah semudah yang dibayangkan. Akan ada banyak hal tak menyenangkan yang kau temui. Badai itu akan menghampiri lagi. Vice versa, banyak hal menarik yang harus kau simpan dalam memorimu. Tentu saja, kau tidak bisa memberikan gambaran yang lengkap tentang lembah Nil ini. Hanya beberapa hal yang kau anggap perlu dicatat, mungkin karena unik atau hanya ada di Mesir dan sekitarnya. Atau, hanya itu yang saat ini teringat di kepalamu, sekarang.
Satu pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab, apa yang akan terjadi sesudah hari ini. Diantara mereka banyak yang melupakan dan sedikit yang mau mengingat bahwa tidak ada masa depan tanpa masa lalu. Kesadaran mulai menggelitikmu. Langkah kecil yang kau ayunkan akan selalu memiliki arti. Itulah awal dari perjalanan panjangmu.
Al-Azhar Al-Syarif, telah melahirkan ulama-ulama kaliber internasional. Ia merupakan sebuah lembaga pendidikan bercorak agama Islam tertua dengan sistem administrasi yang juga ‘tua’. Tak pelak, masalah ini mewarnai hari-hari pertamamu untuk menyelami lebih dalam kehidupan Azhari. Mondar-mandir Murakkib-KBRI-Gawazaat, demi mendapatkan visa pelajar. Konsekuensi bagi para penerjun bebas, yaitu mereka yang mendaftarkan diri ke Al-Azhar tanpa melewati tes Depag RI.
Kau tak bisa mengelak dari takdirmu. Kau bukan santri dari Pesantren yang besar atau sekolah negeri yang terkenal. Riwayat pendidikanmu pun tidak mulus, straight seperti meraka kebanyakan. Dilain fihak, kau mengalami gejolak emosional.
Jika mengingat masa-masa itu, saat dimana depresi menghantuimu, suara-suara itu, membuatmu berfikir secara irrasional. Dadamu menjadi sesak, hatimu terasa sakit. Kau kehilangan respon emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Namun kini kau tidak boleh berfikir secara hipokrit, merasa mengalami kegalauan berat, menjadi seorang skizofrenik. kau telah kembali, normal.
Tidak! Kau bahkan tidak pernah menderita penyakit psikotik! Keadaanlah yang menjadikanmu afektif, antisosial. Pubertas masa remaja, lingkungan sekelilingmu, energi itu kau mampatkan jadi satu, kau coba leburkan kedalam hatimu yang masih suci dan belum terkontaminasi oleh polemik kedewasaan. Jiwamu bersih, tapi akal budimu belum sanggup membendung dan menghadapi luapan badai ini. Satu-satunya ‘kesalahanmu’ adalah kau berhenti melangkah. “Jangan pernah berhenti melangkah, jangan pernah mengeluhkan sesuatu”, kalimat idealis itu menasehatimu. Tapi kau merasa kita sebaiknya berhenti karena memang ada yang mesti dihentikan atau karena kita merasa perjalanan itu tidak ada manfaatnnya.
Pada kenyataannya, kedewasaan seseorang tidaklah ditentukan oleh berapa tua usianya. Karena tidak semua orang yang berumur diimbangi dengan kematangan kedewasaan diri yang sepadan. Tidak sedikit orang yang telah berumur belum menemukan kedewasaannya atau justru tidak ingin menjadi dewasa. Tetapi kau menemukannya, disini.
Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kau membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kau memilih bagaimana bereaksi terhadap semua kondisi. Kau memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kau memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Bagaimana kau hidup. itu adalah pilihanmu. Memang benar pada satu sudut pandang. Hanya saja hidup ini tidak sesederhana mata uang dengan dua sisi saja, kau hanya bisa memilih satu diantara keduanya. Perjalanan hidupmu adalah dinamis, begitu kompleks, relatif dan bergantung pada persepsi yang subyektif. Satu lagi, penuh intrik.
Apakah hidup ini merupakan multiple choices? Lalu, apakah berhenti melangkah berarti telah melakukan sebuah pilihan? Kehidupanmu akan lebih baik jika hidup dengan pilihanmu sendiri. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untukmu.
Kau belajar bahwa tiap hari kau dapat memilih apakah kau akan menikmati hidupmu atau membencinya. Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga ketika kau bisa mengendalikannya tiba-tiba segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah. Kau mensyukurinya.
Kau merasa lebih baik. Ternyata yang kau butuhkan dalam hidup ini adalah bersyukur atas nikmat Tuhanmu dalam berkat-Nya. Keberkahan, berkumpulnya segala kebaikan ilahiah dalam diri seseorang bagaikan berkumpulnya air dalam sebuah cekungan. Apabila berkah terdapat pada sesuatu yang sedikit, ia akan berkembang menjadi banyak, bila berkah itu terdapat pada sesuatu yang banyak, maka ia akan semakin bermanfaat. Perlahan namun pasti, cekungan itu telah manjadi telaga.
Sebuah telaga jiwa yang jernih, tenang. Pelepas dahaga dan tempat peristirahatan yang nyaman. Terkadang fikiranmu terhanyut, telaga mudah mengering, meninggalkan garis air, riak dan lumpur. kau membayangkan samudera. Kedalaman dan keluasannya, tempat mencari ikan bagi nelayan, mutiaranya yang indah, ditepinya berdiri kota-kota bandar, para penjelajah memperoleh pengalaman batin tatkala mengarunginya. Dibalik keagungan samudera, gelombang badai menerjang, getir menciutkan nyali, mengaramkan perahu, menyapu desa-desa pesisir. Kau faham, dalam kekuatan yang besar terdapat tanggung jawab yang besar.
Dua tahun berlalu begitu singkat, renunganlah yang menjadikannya bermakna. Satu hari yang abadi adalah hari ini. Hari kemarin tak bisa kau ubah, relakanlah. Hari esok tak bisa kau ketahui, songsonglah. Hari ini, pintu masa lalu telah tertutup, pintu masa depan belum tiba. Kau dapat mengerjakan banyak hal buat hari ini. Lakukanlah. Jujur dalam hidup, apa adanya. Karena yang ada hanya hari ini. Kau memiliki paradigma baru mengenai relativitas waktu. Masa lalu ada dalam memori, masa depan ada dalam imagi.
Kau bukanlah individu yang idealis dengan teori hidup yang sudah terlukis indah di kanvas putih, namun kau telah banyak memberikan coretan warna di kanvas tersebut. Kau menyadari dan semoga tetap sadar bahwa ilmu itu akan didapat dimanapun dan dengan jalan apapun, bahkan kebijaksanaan dapat direngkuh dari seorang anak kecil sekalipun. Semoga perjalananmu ke negeri Firaun menjadi sepenggal cerita dan bagian pencarian ilmu dalam hidupmu.
Hanya satu harapanmu. Semoga badai itu membawamu ke lembah yang penuh cinta dan kebijaksanaan seperti lembahmu saat ini.